“Ibadah dan Cinta”: Drama Religi Lintas Benua yang Siap Tayang Awal 2026

oleh -826 Dilihat
oleh
"Ibadah dan Cinta": Drama Religi Lintas Benua yang Siap Tayang Awal 2026
"Ibadah dan Cinta": Drama Religi Lintas Benua yang Siap Tayang Awal 2026

BERITALAGI.COM – Film Ibadah dan Cinta menjadi proyek terbaru dari Sinemata Buana Kreasindo (SBK) Productions, menandai kerja sama keempat antara Multi Buana Kreasindo dan Sinemata Productions dalam menghadirkan tontonan dengan ragam warna cerita. Kali ini, mereka menghadirkan kisah romantis religius yang menyatukan nuansa pesantren Indonesia dan keindahan lanskap Australia dalam satu narasi yang menyentuh.

Melbourne dipilih sebagai lokasi utama karena kekayaan visual dan atmosfer naratifnya. Dataran tinggi Grampians, Port Campbell, dan Twelve Apostles menjadi latar penting dalam menggambarkan alienasi dan pencarian jati diri sang tokoh utama. Selain itu, lokasi produksi juga mengambil latar pesantren di Cipining, Bogor, serta sejumlah titik lain seperti Tapos dan Sukabumi.

“Kami tidak sekadar mencari lokasi yang cantik. Kami cari tempat yang bisa bicara, menjadi bagian dari cerita. Grampians punya kesepian, Pesantren Cipining punya kebeningan dan keduanya merefleksikan konflik batin tokoh utama,” jelas Rendy Gunawan, produser Ibadah dan Cinta, saat ditemui di sela proses produksi.

Disutradarai oleh Jastis Arimba, film ini menceritakan Rico, pemuda Australia keturunan Indonesia yang kembali ke Tanah Air dan merasa asing dengan kehidupan pesantren. Di tengah benturan budaya dan spiritualitas, ia menemukan cinta pada sosok Santun, santri perempuan yang membuatnya mempertanyakan makna ibadah sejati. Konflik semakin dalam ketika keduanya harus menghadapi figur ayah yang keras dan menolak perubahan.

Ibadah dan Cinta menyajikan dinamika karakter yang kuat. Cinta dan ibadah tidak ditempatkan sebagai kutub yang saling meniadakan, tapi justru dipadukan menjadi perjalanan spiritual yang penuh perjuangan. “Film ini bicara tentang menerima, memahami, dan memaafkan. Sesuatu yang sering hilang dari film cinta maupun film religi,” ujar Rendy.

Proyek ini menjalani workshop selama 12 hari sebelum syuting, untuk membangun kedalaman emosi dan interaksi antar karakter. Proses produksi ditargetkan selesai dalam waktu 25 hari. Rendy mengungkapkan, “Target kami adalah film ini bisa tayang pada awal 2026, membawa nuansa baru bagi film religi Indonesia.”

Dengan skenario yang ditulis penuh pertimbangan budaya, sinematografi yang ciamik, dan pendekatan emosional yang menyentuh, Ibadah dan Cinta diyakini mampu merangkul penonton lintas usia dan latar. Film ini tidak hanya relevan secara spiritual, tapi juga secara sinematik.

Ibadah dan Cinta siap menjadi pembuka tahun 2026 dengan menawarkan alternatif tontonan religi yang tidak menggurui, tapi mengajak untuk merenung dan merasakan. Dalam balutan kisah cinta, film ini membawa makna yang lebih dalam tentang hidup dan keyakinan. (san/*) #foto dok. ig@ibadahdancinta.film, sinemata production

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.