BERITALAGI.COM — Festival Film Horor (FFH) edisi ke-5 tidak hanya menjadi ajang diskusi, tetapi juga panggung apresiasi bagi insan perfilman horor Tanah Air. Dalam acara yang digelar di Pictum Cafe, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Senin (13/04), film “Suzanna: Santet Dosa Diatas Dosa” berhasil keluar sebagai film terpilih dan menyabet penghargaan bergengsi Nini Suny Award.
Keputusan juri ini menjadi sorotan karena film tersebut dinilai mampu menghadirkan elemen horor yang kuat sekaligus memenuhi standar estetika dan narasi yang solid. Penilaian dilakukan oleh tim juri FFH yang dikenal kritis dalam mengamati perkembangan film horor Indonesia.
Selain penghargaan film terbaik, FFH juga memberikan apresiasi kepada para pelaku di balik layar dan di depan kamera. Sandrinna Michelle dinobatkan sebagai Pemeran Wanita Terpilih berkat penampilannya di film “Danur”, sementara Iwa K meraih gelar Pemeran Pria Terpilih melalui perannya di “Suzanna”.
Penghargaan lain diberikan kepada Awi sebagai Sutradara Terpilih untuk film “Danur”, serta Muhammad Firdaus sebagai Director of Photography (DoP) Terpilih untuk film “Suzanna”. Deretan penghargaan ini mencerminkan kualitas teknis dan artistik yang semakin berkembang dalam genre horor.
Akhlis Suryapati menilai bahwa kemenangan “Suzanna” bukan tanpa alasan. Menurutnya, film tersebut mampu menggabungkan unsur tradisional horor Indonesia dengan pendekatan modern yang relevan bagi penonton masa kini.
“Film seperti Suzanna punya kekuatan di akar cerita dan atmosfer. Itu yang membuatnya kuat secara emosi dan visual,” ujar Akhlis dalam sesi diskusi.
Rama Djunarko juga menambahkan bahwa keberhasilan film horor saat ini tidak lepas dari keberanian sineas dalam mengeksplorasi tema dan teknik penceritaan yang lebih variatif. “Sekarang horor tidak hanya soal menakutkan, tapi juga bagaimana membangun cerita yang kuat dan relatable,” jelas Rama.
Sementara itu, Ryan Fadilah sebagai editor menekankan pentingnya peran teknis dalam membangun ketegangan dalam film horor. Ia menyebut editing menjadi salah satu elemen krusial yang menentukan keberhasilan sebuah adegan. “Ritme editing sangat menentukan. Salah sedikit saja, efek horornya bisa hilang,” ungkap Ryan.
Festival Film Horor sendiri terus berkembang sebagai wadah apresiasi bulanan yang konsisten mengangkat film horor Indonesia. Ajang ini diharapkan mampu mendorong lahirnya karya-karya baru yang tidak hanya menakutkan, tetapi juga berkualitas dan berdaya saing tinggi. (san/*) #foto dok. ffh






