BERITALAGI.COM — Rilisan teaser Ghost in The Cell karya Joko Anwar semakin mempertegas ambisi sineas tersebut untuk membawa film Indonesia menembus panggung global. Perpaduan horor dan komedi yang menjadi ciri khasnya dihadirkan dengan konsep matang, memadukan absurditas dan ketegangan dalam satu ruang yang sama.
Dalam teaser, dua aktor cilik menjadi narator yang menyampaikan kisah sel penjara yang kacau, misterius, dan penuh humor gelap. Meski menggunakan gaya penyampaian ringan, mereka menegaskan bahwa film ini bukan untuk konsumsi anak-anak, menandai intensitas horor yang tetap dominan.
Joko Anwar menyebut pengerjaan Ghost in The Cell sebagai proses kreatif yang paling menantang karena harus menjaga keseimbangan dua genre. “Membangun rasa takut dan tawa dalam satu alur itu pekerjaan detail. Timing adalah segalanya,” ungkapnya.
Produser Tia Hasibuan menambahkan bahwa film ini dirancang agar dapat diterima pasar luas, termasuk internasional. “Kami bekerja keras memastikan kualitas visual, cerita, dan atmosfernya memenuhi standar global. Ada pesan sosial yang ingin kami sampaikan di balik semua absurditasnya,” ujarnya.
Film ini menghadirkan aktor lintas generasi seperti Abimana Aryasatya, Morgan Oey, Rio Dewanto, Aming, hingga Lukman Sardi, serta aktor Malaysia Bront Palarae. Keberagaman karakter yang saling bentrok di dalam sel penjara menjadi bahan bakar komedi sekaligus ketegangan cerita.
Kerja sama dengan Barunson E&A—studio di balik Train to Busan—sebagai sales agent semakin membuka peluang *Ghost in The Cell* menuju pasar film internasional. Kolaborasi ini dipandang sebagai langkah strategis untuk memperluas karya sineas Indonesia ke luar negeri.
Direncanakan rilis pada 2026, film ini menjadi salah satu proyek yang paling ditunggu penggemar horor dan komedi. Dengan gaya visual kuat dan cerita yang penuh energi, Ghost in The Cell diprediksi memperkuat jejak Joko Anwar sebagai pembuat film yang berani menggabungkan dua dunia yang bertolak belakang. (san/*) #artwork dok. ig@jokoanwar




