JAKARTA, BERITALAGI.COM — Pendekatan horor dalam film Alas Roban memperlihatkan kecenderungan baru perfilman Indonesia yang mulai meninggalkan teror instan dan beralih pada eksplorasi emosi manusia. Film ini menjadikan rasa takut sebagai proses, bukan kejutan, dengan mitos Alas Roban sebagai fondasi utama cerita.
Aktris Michelle Ziudith menyebut pengalaman terlibat dalam film ini sebagai perjalanan emosional yang berbeda dari proyek-proyek sebelumnya.
“Aku merasa horornya bukan datang dari hantu, tapi dari situasi dan rasa tidak aman yang terus dibangun,” kata Michelle.
Ia menilai kekuatan film ini terletak pada kedalaman cerita. “Ini bukan horor yang selesai setelah satu adegan. Perasaannya terbawa terus, bahkan setelah syuting selesai,” ujarnya.
Taskya Namya, yang memerankan karakter Tika, merasakan hal serupa. Menurutnya, ketegangan muncul dari detail-detail kecil yang tampak sepele. “Tatapan, suara, dan keheningan justru yang bikin tidak nyaman,” kata Taskya.
Film ini dengan sengaja memanfaatkan relasi antarkarakter untuk memperkuat rasa teror. Konflik personal, trauma masa lalu, dan ketakutan yang terpendam menjadi bahan bakar utama ketegangan.
Produser Oswin B menjelaskan bahwa film ini dirancang agar penonton ikut terjebak dalam kondisi mental para karakter. “Kami ingin penonton merasa seolah ikut melintas di Alas Roban,” ujarnya.
Didukung sinematografi gelap dan ritme cerita yang perlahan, Alas Roban membangun suasana horor yang tidak terburu-buru, memberi ruang bagi penonton untuk mencerna rasa takutnya sendiri.
Dengan pendekatan tersebut, *Alas Roban* berpotensi menjadi salah satu film horor Indonesia yang dikenang bukan karena terornya yang keras, melainkan karena pengalaman psikologis yang membekas lama setelah film usai. (san/*) #artwork dok. ig@alasroban.themovie




