BERITALAGI.COM — Perilisan album perdana “RESONANSI” pada 30 September 2025 menjadi langkah strategis PARA•DIKSI dalam membangun identitas mereka sebagai band alternative pop yang siap bersaing di industri musik Indonesia. Dengan sembilan lagu penuh narasi emosional dan estetika sound yang berbeda, PARA•DIKSI menempatkan diri sebagai salah satu band pendatang yang patut diperhitungkan.
Band yang terbentuk pada 2022 itu mencoba menggabungkan referensi britpop, j-pop, alternative rock, hingga alternative pop untuk menciptakan signature sound yang khas. Pendekatan ini membuat “RESONANSI” terdengar segar sekaligus relevan di tengah meningkatnya minat publik terhadap musik alternatif yang lebih personal dan eksperimental.
Setiap personel membawa pengaruh musikal berbeda, tetapi justru keberagaman itulah yang membuat PARA•DIKSI berhasil menyatu dalam album ini. Ekky dengan karakter vokalnya yang emosional, Efan dengan riff-riff melankolis, Wisnan yang memberikan groove lembut, serta Deva yang menghidupkan ritme menjadi formula yang solid.
Album ini memperlihatkan kematangan komposisi melalui lagu seperti MANUSIA, Tertahan, dan D.A.R yang menonjolkan kemampuan songwriting Imam R. Prayogo. Kekayaan lirik yang penuh refleksi membuat PARA•DIKSI tampil sebagai band dengan kedalaman tema, bukan sekadar pemain baru dengan sound menarik.
Kehadiran musisi kolaborator membuat resonansi album semakin luas. Lagu-lagu seperti STAY atau DON’T memperlihatkan keterbukaan PARA•DIKSI terhadap eksplorasi, membuktikan bahwa mereka ingin tumbuh, bukan hanya konsisten pada satu formula. Pendekatan ini membuka peluang bagi PARA•DIKSI untuk memperluas segmentasi pendengar.
Video lirik yang dirilis bersamaan memperkuat pengalaman visual dan emosional pendengar. Narasi album yang membawa tema kesehatan mental dan perjalanan diri diperkuat oleh visual-visual minimalis yang membawa pendengar lebih dekat pada makna lagu.
“RESONANSI” bukan hanya debut album, tetapi fondasi masa depan PARA•DIKSI. Lewat album ini, mereka deklarasikan bahwa kehadiran mereka bukan sekadar fenomena lokal, melainkan bagian dari skena alternatif nasional yang sedang naik daun. Reputasi mereka kini meluas dari Pantura ke ruang digital yang lebih besar.
Album ini menunjukkan bahwa PARA•DIKSI siap memasuki fase baru—fase di mana mereka bukan lagi band baru yang mencari formula, tetapi band yang telah menemukan identitas dan siap melangkah lebih jauh dengan karya yang semakin matang. (san/*) #foto dok. paradiksi music




